Rabu, 16 November 2011

Resensi buku "Ayahku (bukan) Pembohong" (TERE-LIYE)

     
"Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh bangga padanya?
Inilah kisah tentang seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat ia membenci ayahnya sendiri. Inilah kisah tentang hakikat kebahagiaan sejati. Jika kalian tidak menemukan rumus itu di novel ini, tidak ada lagi cara terbaik untuk menjelaskannya.
Mulailah membaca novel ini dengan hati lapang, dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya."
       Selama ini saya selalu mengutamakan keberadaan ibu.Padahal sebenarnya keberadaan ayah juga sama pentingnya dengan ibu.

       Buku ini menceritakan seorang ayah yang selalu bangga akan hidup dimasa mudanya kepada anaknya.Seorang pria biasa yang sangat sederhana dan sangat rendah hati yang berhasil memikat hati seorang aktris terkenal dimasa itu.Awalnya anak itu percaya akan cerita sang ayah.Namun lambat-laun,logika anak tersebut sudah mulai meragukan kehebatan sang ayah.Anak tersebut pun menyimpulkan,kalau selama ini cerita itu hanyalah dongeng semata.Sampai akhirnya anak itu pun tumbuh menjadi pria dewasa dan hebat.Pria itu kini mempunyai dua orang anak dan ayahnya kembali bercerita mengenai pengalaman semasa mudanya.Pria dewasa itupun mulai muak dan akhirnya mengusir ayahnya sendiri dari rumah.

        Buku ini mengajarkan kita untuk lebih menyayangi ayah.Segala yang telah terjadi tidak akan bisa diperbaiki.Lakukan yang terbaik untuk ayah ataupun ibu,karena tanpa mereka kita tak akan ada di dunia ini.Akhir cerita novel ini,membuat air mata saya turun.Sangat terharu dan fantastis.Di belakang kover pun dituliskan, "Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita?Menatap wajahnya,lantas bilang kita sungguh sayang padanya?" Entah kapan terakhir kali saya memeluk ayah,namun setelah membaca ini.Saya mencari ayah!